dari lampu merah selamatkan perekonomian bangsa!

Indonesia merupakan Negara yang kaya akan Sumber Daya Alam yang hampir setiap jenis kekayaan ada didalamnya, tentu belum dalam bentuk kekayaan konkrit melainkan kekayaan yang memerlukan banyak usaha dan fikir untuk bisa diejawantahkan dalam bentuk nyata kekayaan, salah satunya minyk bumi. Namun hal yang cukup membuat miris ialah bahwa Negara kita belum bisa mandiri dalam penyediaan BBM yang terbukti dengan masih impornya BBM hingga lebih dari 2 juta barel (juni 2005). Karenanya diperlukan tindakan antisipasi dan pemahaman yang mendasar akan pentingnya upaya penghematan BBN mengingat bahan bakar minyak bumi merupakan SDA yang tidak dapat diperbaharui

Upaya penghematan tersebut haruslah dimulai dara kesadaran terkecil dan kolektif yang akan memberikan dampak besar apabila konsisten dan dilakukan secara global dengan penuh kesadaran. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mematikan kendaraan pada saat lampu merah. Pemerintah daerah maupun pusat di beberapa wilayah telah memasang alat penghitung waktu mundur (countdown) hampir di setiap perempatan kota-kota besar. Selain sebagai upaya peningkatan ketertiban dan keamanan bagi pengguna jalan khususnya pengguna kendaraana bermotor, secara tidak langsung pengguna juga bisa menggunakan seefektif mungkin fasilitas ini sebagai upaya penghematan bahan bakar kendaraanya dengan mematikan mesin kendaraannya ketika lampu merah, tidak usah khawatir dan terburu-buru ketika menunggu kapan lampu hijau menyala karena kita bisa memperkirakan kapan harus menyalakan mesin kembali dengan memperhitungkan waktu di countdown yang dapat dengan mudah diamati di permpatan.

Sampai dengan saat ini jumlah kendaraan bermotor di seluruh Indonesia telah mencapai lebih dari 20 juta yang 60 percent; adalah sepeda motor sedangkan pertumbuhan populasi untuk mobil sekitar 3-4% dan sepeda motor lebih dari 4% per tahun (data dari Dep. Perhubungan). Berdasarkan catatan Pertamina, rata-rata kebutuhan BBM nasional sebesar 172.415 KL per hari. Kebutuhan terbesar adalah solar 72 ribu KL per hari, premium 44 ribu KL per hari, dan minyak tanah atau kerosin 32 ribu KL per hari. Kebutuhan tersebut sebagian besar dipenuhi dari produksi kilang dalam negeri sebanyak 75 persen atau 130 ribu KL per hari. Sisanya, sekitar 25 persen atau 40 ribu KL per hari atau 1,2 juta KL per bulan diimpor dari luar negeri.

Efektifitas dari upaya ini dapat dihitung dengan simulasi berikut, contoh simulasi pada saat mengendarai mobil dengan perilaku mengemudi yang baik dan yang seenaknya Simulasi pertama :

Mengendarai dengan agresif di jarak 25 km

  • Start dari tempat keberangkatan memanasi mesin mobil (5 menit) penggunaan BBM jika dirupiahkan Rp.125,-
  • Memainkan gas saat lampu merah (1 menit) Rp.150,-
  • Memainkan gas saat lampu merah (1menit) Rp.150,-
  • Memainkan gas saat perhentian KA (3 menit) Rp.450,-
  • Memainkan gas saat lampu merah (1 menit) Rp.150,-
  • Memainkan gas saat lampu merah (1menit) Rp. 150,-
  • Memainkan gas saat lampu merah (1 menit) Rp.150,-
  • Menunggu di dalam mobil (AC dinyalakan ±30 menit) Rp.1800,-
  • Mengemudi agresif 1x perjalanan Rp.18.750,-

Total biaya konsumsi BBM dengan perilaku mengemudi seperti pada rute 1x (jarak 25 km) Rp.21.875,-

Simulasi kedua :

Mengendarai dengan perilaku tertib di jalan raya pada jarak 35 km

  • Start dari tempat keberangkatan memanasi mesin mobil (1 menit) penggunaan BBM jika dirupiahkan Rp. 25,-
  • Tidak memainkan gas saat berhenti (1menit) Rp.25,-
  • Tidak memainkan gas saat berhenti (1menit) Rp.25,-
  • Tidak memainkan gas saat berhenti (1menit) Rp.25,-
  • Tidak memainkan gas saat berhenti (1menit) Rp.25,-
  • Mengemudi dengan halus 1 x perjalanan Rp.9.750,-
  • Menunggu di dalam mobil (AC dimatikan ±30 menit) Rp. 0,-

Total biaya konsumsi BBM dengan perilaku mengemudi seperti pada rute 1x (jarak 35 km) Rp.9.875,-

Hasilnya tentu berbeda antara perilaku berkendara dengan baik dengan yang seenaknya di jalan raya, termasuk sikap pengendara di lampu merah. Dengan demikian apabila hal sepeti ini dilaukan secara kolektif secara tidak terasa kita telah menghemat anggaran Negara dalam produksi maupun impor bahan bakar. Tinggal sekarang bagaimana kesadaran pemerintah mengenai manfaat dari pemasangan countdown di setiap perempatan yang tidak hanya sekedar perhitungan kemanan dan kenyamanan bagi pengendara namun juga dapat menyelamatkan keuangan negara. Berdasarkan simulasi diatas apabila hal ini dilakukan oleh sebanyak 20 juta pengendara di indonesia maka tentu akan bisa meghemat anggaran pemerintah dalam penyediaan bahan bakar kendaraan hingga 197,5 Milyar di setiap 25 km perjalanan kendaraan bermotor, dan harapannya pemeritah tidak hanya memasang countdown di kota-kota besar saja namun upaya ini terus dilakukan singga menjamah setiap daerah yang memiliki aktifitas lalulintas yang cukup padat. Karena sesuatu yang besar itu senantiasa bermula dari hal kecil karenanya mari kita galakan aktivitas mematikan kendaraan di lampu merah yang telah dipasang penghitung waktu mundurnya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.